Rihlah biasanya merupakan sesuatu yang selalu ditunggu dan diminati oleh para kader. Mereka yang terkadang kurang aktif dalam jamaah pun, tidak mau ketinggalan untuk kegiatan yang satu ini. Aku contoh nyatanya. Rutinitas harian maupun mingguan dalam jamaah sering menimbulkan kebosanan tersendiri. Dan aku rasa hal itu memang sesuatu yang manusiawi. Setiap orang sesekali membutuhkan penyegaran, refreshing, istirahat, yang semuanya bertujuan untuk memulihkan kondisi kesegaran fisik maupun pikiran. Saat badan dan pikiran sudah merasakan kejenuhan dan kebosanan, pikiran seolah heng dan mentok, maka saat itulah waktunya untuk rihlah.
Hal itu yang juga kami rasakan beberapa waktu yang lalu (setahun yang lalu kali ya). Saat itu bertepatan dengan akan diadakannya rotasi dalam jamaah dan dibarengi dengan rencana yang sudah beberapa kali tertunda. Tambah lagi didukung dengan kondisi yang seolah tanpa beban, belum banyak tanggungan, jiwa muda bahkan sebagian masih lajang, maka tak pelak semangat untuk rihlah begitu menggebu. Rasanya sayang sekali untuk dilewatkan. Singkat cerita berangkatlah kami ke Sitongging.
Kalo kalian belum pernah ke sana atau bahkan belum juga sekalipun mendengar nama Sitongging ga usah berkecil hati, aku waktu itu juga begitu asing mendengar nama Sitongging. Namun jika aku sebut nama Danau Toba tentu kalian akan langsung tahu. Nah Sitongging itu boleh dibilang merupakan sisi lain dari Danau Toba karena letaknya ada disebelah ujung timur dari danau tsb. Kurang lebih 5 jam perjalanan dengan sepeda motor dari kota Medan melalui jalur Sibolangit Berastagi.
Bagaimana sebenarnya alam Sitonggi itu? Gambar-gambar berikut tentu akan lebih bermakna bagi kalian daripada ceritaku yang ngalor-ngidul ga keruan ….










Posted in
Tags: 


Wah..jauh juga ya sitongging,dari tempatku di palangkaraya..tapi gambarnya oke..
apa yg terkenal di palangkaraya mas? btw jadi ingat temen aku yg jadi dosen di univ palangkaraya..