Klaten, Kota Kelahiranku

Kesempatan ke Jogja yang difasilitasi kantor minggu yang lalu, tentunya tidak aku sia-siakan. Aku manfaatkan waktu sisa yang ada untuk pulang ke Klaten. Mirip seperti tahun lalu ketika ada kegiatan di Bogor yang juga difasilitasi kantor. Aku bisa berkumpul bersama orang-orang tercinta, melihat kondisi terakhir Klaten, kota kelahiranku sembari bernostalgia mengunjungi tempat-tempat yang mempunyai kesan khusus. Ini adalah kunjungan pertama setelah aku menikah. Sayangnya kunjungan kali ini aku hanya sendiri, tidak ditemani istri tercinta. Tapi tak mengapa, karena bagaimanapun pulang kampung selalu membawa sesuatu yang terasa lain.

Seperti pada umumnya, selalu terjadi perubahan. Begitupun dengan kotaku, Klaten. Banyak kemajuan secara fisik yang bisa aku saksikan. Kondisi jalan yang mulus, hotmix bahkan sampai ke pelosok Wedi tempat tinggal nenekku. Jauh berbeda dengan kondisi jalan-jalan di tempat tinggalku sekarang, Deli Serdang. Banyak yang bilang AD 1 C saat ini memang membawa banyak perubahan dibanding Bupati sebelumnya. Walaupun ada juga yang berbisik bahwa pembangunan jalan-jalan di Klaten juga menguntungkan bagi sang Bupati maupun orang-orang terdekatnya. Yach selalu ada sisi positif dan negatif, seperti siang dan malam, laki dan perempuan, selalu berdampingan. Bagiku selama kebaikannya masih terasa lebih banyak dibandingkan mudhorot, tak jadi soal. Karena begitulah manusia, tak ada yang sempurna.

Tentunya yang tak terlupakan adalah mengunjungi warnet, tempat tongkrongan wajib setiap kali aku bepergian kemanapun. Aku perhatikan warnet-warnet di Klaten telah mengalami pertumbuhan. Walaupun tak sebanyak di kota Jogja, tapi cukup lah untuk ukuran Klaten. Fasilitas warnetnya juga ga kalah jauh kok dengan yang di Jogja. Nyaman, ber-AC, ada smoking area, parkir yang luas dan tarifnya pun bisa dibilang sama.

Di dunia maya, Klaten ternyata kurang begitu populer bila dibandingkan Jogja, Bogor ataupun Medan. Ketika aku ketikkan “Klaten”, aku dapati 950.000 hasil pencarian. Masih kalah dibandingkan Jogja (3.760.000), Bogor (6.440.000) dan Medan (17.900.000). Tidak aneh memang, sebab kalau dilihat dari popularitas di dunia nyata, kota-kota tersebut memang lebih populer dibandingkan Klaten. Tapi kota Klaten masih lebih populer dibandingkan Deli Serdang (178.000), tempat tinggal aku sekarang. Sayangnya saat ini aku ga bisa mengakses wordtracker guna mengetahui seberapa banyak orang yang mencari dengan kata kota-kota tersebut.

Incoming search terms for the article:



You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply